Sabtu, 23 September 2017

40 Hari di Nagari Penuh Mitos



           Seketika saya terkejut melihat nama saya terpampang bersama deretan nama kawan-kawan lain di Portal KKN Unand 50 hari yang lalu. Saya ditempatkan di sebuah nagari penuh mitos. Nagari tersebut merupakan bagian dari Kecamatan Sumpur Kudus. Dulu, mendengar nama Sumpur Kudus saja orang lain sudah takut. Apalagi berdomisili dalam waktu 40 hari di salah satu nagari di Sumpur Kudus.  Kata sebagian orang yang sudah berkunjung ke sana, Sumpur Kudus orangnya punya ilmu tenaga dalam dan sakti mandra guna. 
            Lalu, ada sebuah tradisi lama yang mengharuskan orang yang baru masuk ke Sumpur Kudus menancapkan kayu atau lidi serta meninggalkan satu buah benda sebagai tanda masuk daerah tersebut. Tak hanya itu, jika melakukan perjalanan ke daerah tersebut juga tidak boleh lewat dari pukul 9 malam. Kalau hal tersebut tidak dipercayai, orang bersangkutan akan mengalami sakit dan geram seperti orang gila. Itulah cerita yang saya dengar dari kakek, ayah, ibu dan keluarga saya  yang lain saat saya menyinggung mengenai daerah bernama Sumpur Kudus.
            Rasa takut menjadi gila hingga tidak mengenali siapa-siapa, cemas jika menetap dan menikah dengan pemuda setempat karena pengaruh ilmu guna-guna, menggerogoti diri saat mengingat cerita yang pernah didendangkan kepada saya. Hal itu berlanjut hingga keberangkatan KKN 4 Juli lalu. Di dalam pikiran saya saat berada di dalam bus pariwisata berwarna biru, terbesit pertanyaan apakah saya akan mengalami nasib yang sama dengan seseorang yang pernah diceritakan kakek dan keluarga yang lainnya? Entahlah. Saya hanya butuh bukti nyata dari semua peristiwa yang terjadi.
            Di tengah perjalanan, salah seorang teman laki-laki saya bertanya:
          "Apa benar di tempat KKN kita menakutkan? katanya menatap sembari menunggu            jawaban.
         Saya memang asli orang Sijunjung. Lahir di salah satu rumah bidan di Kenagarian Muaro Kecamatan Sijunjung Kabupaten Sijunjung pada 1995 silam. Tetapi tidak semua nagari di kabupaten Sijunjung saya ketahui se detail itu. Jadi saya hanya menjawab semampu saya. Sesuai dengan apa yang saya tahu dan saya dengar. Saya mengatakan kepada dia, bahwasanya daerah tempat KKN saya dan kawan-kawan saat ini tidak menakutkan seperti daerah Sumpur Kudus. Memang beredar mitos seperti kalau mau makan, harus berhati-hati dan siaga. Kita (pendatang-red) baru bisa makan, setelah pemilik rumah makan terlebih dahulu. 
          "Kata sebagian orang, di daerah sana banyak tubo. Tubo adalah sejenis racun yang dimasukan ke dalam makanan atau minuman. Tubo itu kecil. Tidak tampak oleh mata. Jika termakan, kita akan terserang penyakit," ujar saya kala itu. 
Tidak ada maksud saya untuk menakut-nakuti teman saya saat itu. Akan tetapi, itulah yang saya ketahui. Itulah yang saya dengar. 
           3 jam perjalanan dari Padang menuju Sijunjung. 291 mahasiswa dan dosen pembimbing lapangan tiba di gedung Pancasila. Saya tidak tahu pasti, mengapa gedung tersebut dinamai gedung Pancasila. Yang jelas gedung tersebut selalu digunakan sebagai tempat pertemuan. Saya dan kawan-kawan disambut Wakil Bupati Sijunjung, Arrival Boy. Saat itu,  Arrival Boy berharap kepada mahasiswa yang akan ber-KKN di Sijunjung agar mampu menciptakan suasana baru dan keakraban di lingkungan masyarakat.
            “Hati-hati bertutur kata dan bersikap. Sebab berbeda tempat berbeda situasi yang didapatkan,” tuturnya.
           Kalimat wakil bupati kala itu lagi-lagi mengingatkan saya akan mitos-mitos yang beredar. Ada apa sebenarnya di nagari tempat saya ber-KKN? Sebenarnya saya juga tak harus mempertanyakan hal itu sedemikian rupa. Saya berasal dari daerah Sijunjung. Tetapi, saya hanya sekedar tahu, tidak paham betul seperti apa adat, budaya, serta tradisi yang berlaku di daerah tempat saya ber-KKN. Itulah sebabnya saya mempertanyakan hal tersebut.
            Saya kenal dengan pepatah, "dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang". Artinya, dimanapun kita berada, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan adat istiadat serta kebudayaan daerah yang kita tempati. Pepatah tersebutlah yang menjadi penguat saya ketika itu.
                 Usai penyambutan oleh wakil bupati di gedung tersebut, kami melanjutkan perjalanan menuju daerah tempat saya KKN. Nagari Tanjung Bonai Aur Selatan. Nagari tersebut merupakan pemekaran dari nagari Tanjung Bonai Aur. Memiliki 5 jorong yaitu Pincuran Tujuh, Aur Seriau, Puntian, Kuok dan Payo Lowe.
                      Tibalah kami di perempatan jalan. Jika lurus, kami akan sampai di jorong kuok. Jika ke kiri, kami akan sampai di daerah Tamparungo, Sisawah, dan Silantai. Jika ke kanan, tibalah kami di Nagari Tanjung Bonai Aur Selatan. Kami disambut oleh wali nagari dan jajarannya serta merta melakukan persentasi program kerja.
                     Keesokan harinya kami ditempatkan di masing-masing jorong. Satu jorong terdiri dari 5-6 orang. Saya bersama empat teman saya ditempatkan di jorong Payo Lowe. Satu teman laki-laki dan 3 teman perempuan. Itulah tim saya untuk mengabdi kepada masyarakat selama 40 hari.
                       Saya dan teman-teman tinggal di rumah warga.  Rumah tersebut, dihuni oleh dua kepala keluarga. Istilah nya dua pasang suami istri. Setibanya di rumah tersebut, kami disuguhkan satu gelas air putih per masing-masingnya. Tak hanya itu, kami juga disuguhkan kue sapik, maloyang, dan ragam kue lainnya. Awalnya saya ragu untuk memakan kue tersebut. Saya ragu karena saya terus mengingat perkataan orang-orang sekitar terhadap saya, bahwa jika makan atau minum di nagari tersebut harus mendahulukan penghuni rumah.  Saya minum jika pemilik rumah minum. Begitupun makan. Setelah, pemilik rumah minum, saya baru minum. Saya lihat tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Setelah itu, pemilik rumah makan. Saya juga melihat tidak terjadi apa-apa dengan mereka.
                
                        Suatu ketika, penghuni rumah bisa menilai keraguan kami. Ia berkata:
                        "Nampak dek apak, kalian takuik-takuik makan di tampek apak. Jan takuik lo lai. Ndak ado gai apo-apo di makanan tu do. Di daerah apak ko lah kurang nan mode-mode di daerah sumpu. Hampia dikatoan indak ado," ujarnya.

Keesokan harinya, saya memberanikan diri untuk makan dan minum di rumah warga tersebut.  Ya, itu jika disilahkan penghuni rumah. Tidak satu dua kali saya melakukan hal tersebut. tetapi berkali-kali. Hingga saya menyimpulkan, satu mitos mengenai tubo terbantahkan berdasarkan bukti dan perkataan pemilik rumah.
                       Sekarang, seakan-akan cerita itu hanya pengobat tidur dan terkesan menakut-nakuti. Tapi percaya atau tidak, kejadian tersebut memang benar adanya di daerah sumpur kudus sana. Karena bagaimanapun, sumpur kudus adalah bagian dari minang kabau yang kaya akan budaya dan tradisi nenek moyang yang turun temurun menjadi adat dan kebiasaan di minang kabau. Ada sebagian orang berpendapat kalau cerita- cerita tersebut harus dihilangkan, karena sangat bertentangan denga agama. Serta akan memperburuk citra suatu daerah.
            `

Rabu, 14 Desember 2016

SAPTA Pesona Ngalau Posuak Sijunjung


Ngalau Posuak berada di Jorong Taratak Batuang Nagari Padang Laweh, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung. Jaraknya sekitar 15 km dari kota Muaro Sijunjung.Jika datang dari Muaro Sijunjung sangat disarankan mengisi bahan bakar terlebih dahulu karena perjalanan kesana tidak ada pom bensin yang ada hanya penjual bensin eceran yang tentunya harganya lebih mahal.Butuh 30 menit perjalanan untuk ke titik awal pendakian dan sangat disarankan menggunakan kendaraan roda dua karena nantinya akan melewati jembatan gantung dengan lebar hanya 1,5 meter, praktis kendaraan jenis roda empat tidak akan bisa melewatinya.

Akses jalan menuju Ngalau Posuak terbilang kurang baik karena banyak kondisi jalan yang rusak, sempit  dan bergelombang sehingga Anda harus hati-hati. Apalagi jika melakukan perjalanan saat musim hujan. Seperti yang penulis lakukan beberapa bulan yang lalu. Kondisi saat itu, jalan penuh lumpur. Bansepeda motor yang kami kendarai tercebur ke dalam lumpur, hingga melesat beberapa jam. Lama berselang, tibalah penulis di area parkir atau di kaki bukit Ngalau Posuak. Penulis memarkirkan kendaraan serta helmnya kepada petugas yang ada di sana.

Setelah itu,petugas menghimbau para pengunjung tidak boleh trekking ketika sudah lewat jam 4 sore, tidak boleh berbuat mesum dan peraturan – peraturan lainnya yang dibuat guna menjaga keamanan dan keselamatan pengunjung.

Kemudian, penulis melanjutkan perjalanan. Mulailah kami mendaki bukit Ngalau Posuak. Mengandalkan akar pohon sebagai pegangan serta mengandalkan urat sebagai pijakan. Saat itu kami merasakan sensasi yang luar biasa. Kami cukup khawatir, karena pendakian tersebut belum seutuhnya di rapikan. Semak-semak saat itu masih mengenai kaki kami. Ini menandakan pendakian bukit Ngalau Posuak belum terperhatikan sepenuhnya.

Di tengah perjalanan, di atas bukit sebelum sampai ke tujuan, penulis bisa melihat suguhan pemandangan yang menarik. Di sekeliling ada bukit-bukit kecil , dan kita bisa melihat hamparan sawah yang luas dan hijau dari atas bukit tersebut. Saat itu, penulis beristirahat sejenak karena di sana ada sebuah pondok kecil beralaskan kayu yang kerap disebut kayu ‘sadiah’ bagi orang sijunjung.

Menurut saya Sapta Pesona dari Ngalau Posuak yaitu:

AMAN
Wisatawan akan senang berkunjung ke suatu tempat apabila merasa aman, tenteram, tidak takut, terlindungi dan bebas. Dalam hal ini, saya belum merasakan keamanan saat berkunjung ke ngalau Posuak. Kenapa? Karena, saya merasa tidak aman ketika sampai di area parkir, masih ada petugas yang menjaga kendaraan saya dan pengunjung lainnya dan helm yang kita pakai dititipkan di sana.

Dalam perjalanan saat mendakipun saya merasa tidak aman, karena saya merasa takut ketika mendaki tidak ada orang yang menjadi penunjuk arah atau sebagainya. Hanya ada teman saya. Otomatis, kami mencari sendiri jalan yang kami lalui, dengan melihat dan memilah mana jalan yang belum dijamah dan mana yang sudah.

TERTIB
Begitupun dengan ketertiban. Saat di sana, memang tidak ada yang mengatur. Namun, saat kendaraan kami melintasi jalan yang sempit, kami berpapasan dengan motor kendaraan pengunjung lain. Otomatis, kami harus mengalah dan menepi. Karena pengunjung tersebut tak jua menepi.

BERSIH
Bersih merupakan suatu keadaan/kondisi lingkungan yang menampilkan suasana bebas dari kotoran, sampah, limbah, penyakit dan pencemaran. Wisatawan akan merasa betah dan nyaman bila berada di tempat-tempat yang bersih dan sehat seperti . Saat di perjalanan, kami menemukan botol-botol minuman pengunjung berserakan. Bukan saat diperjalanan saja, saat menginjakan kaki di atas bukit tersebut, kami juga melihat sampah makanan dan minuman pengunjung berserakan.
SEJUK
Lingkungan yang serba hijau, segar, rapi memberi suasana atau keadaan sejuk, nyaman dan tenteram.
INDAH
Indah yang selalu sejalan dengan bersih dan tertib serta tidak terpisahkan dari lingkungan hidup baik berupa ciptaan Tuhan Yang Maha Esa maupun hasil karya manusia. Bagi saya, keindahan di atas bukit Ngalau Posuak sudah merupakan suatu keindahan yang tak bisa diungkakan dengan kata-kata. Karena begitu menakjubkan dengan pemnadangan dari atas  bukit.

RAMAH  TAMAH
Masyarakat sekitar bukit Ngalau Posuak cukup ramah. Mereka tersenyum kepada kami setelah turun dari bukit sambil berkata,” Baa nak? Lah sampai ka ateh nyo tadi? Nyo di ateh tu yang ancak na,” cerita ibu tersebut.

KENANGAN
Begitu banyak kenangan saat itu. Melihat perjuangan sahabat saya menemani saya untuk mewujudkan keinginan saya untuk mendaki bukit tersebut. 

Selasa, 13 Desember 2016

Pentingnya Menjemur Bantal dan Kasur Secara Rutin


Saat ini banyak dari kita yang disibukkan dengan berbagai kegiatan seperti belajar, bekerja dan aktivitas lainnya, sehingga kita lupa untuk menjaga kebersihan bantal dan kasur yang kita gunakan siang dan malam hari. Padahal tempat untuk melepas penat usai beraktivitas tersebut, belum tentu bersih karena kuman yang menempel di bantal dan kasur bisa menyebabkan kesehatan kita menjadi terganggu. Untuk itu penting bagi kita untuk membiasakan hal-hal kecil agar tidak menimbulkan dampak besar. Berikut uraian tentang pentingnya menjemur bantal dan kasur secara rutin.

1.      Meningkatkan Volume
Bantal, guling dan kasur akan mulai kehilangan sedikit demi sedikit volumenya dalam jangka waktu tertentu. Anda bisa mengembalikannya kembali ke bentuk awal dan lebih awet dipakai, caranya dengan menjemurnya di bawah terik matahari.

2.      Menghilangkan Debu yang Mengendap
Panas matahari bisa menghilangkan debu yang tak kasat mata di bantal dan kasur kita. Dengan demikian akan menghindarkan dari gatal dan penyakit kulit, bahkan penyakit paru-paru. Caranya, dengan memukulkan kayu atau benda kuat ke arah bantal dan kasur, hingga terlihat debu-debu yang menempel beterbangan. Sembari melakukan hal tersebut alangkah baiknya, Anda menutup hidung agar debu tersebut tidak terhirup.

3.      Mengurangi Lembab
Lembab bisa terjadi karena suhu ruangan kamar, udara, ompol, bekas basahan lain dan sebagainya. Akibatnya bantal dan kasur Anda berbau tak sedap. Untuk itu, Anda perlu menjemur kasur Andaagar  lebih kering dan nyaman, juga menghalau tumbuhnya jamur pada permukaan bantal dan kasur.

4.      Membuat Tidur Lebih Nyaman
Dengan bantal dan kasur yang rajin dijemur, tidur akan terasa lebih nyaman. Tidak ada aroma lembab, kasur dan bantal tidak keras dan tidak ada rasa gatal yang mengganggu di kulit.

5.      Mencegah Sakit Leher
Kerap kali kita merasa sakit leher, mungkin bantal yang kurang dijemur. Coba jemur bantal Anda selama beberapa waktu. Setelah agak mengembang dan hangat, bisa digunakan untuk tidur dan rasanya akan lebih nyaman digunakan.
Itulah manfaat menjemur bantal dan kasur. Coba jemur minimal bantal Anda seminggu sekali di akhir pekan. Tidur jadi lebih nyenyak dan menyehatkan. Selamat mencoba. Rizka(Diolah dari berbagai sumber)


Senin, 12 Desember 2016

Palito Nyalo, Wadah Seni Kota Padang


Di era globalisasi ini kata musik merupakan kata yang sudah tidak asing lagi bagi kita ,baik di kota besar,maupun didesa-desa, remaja, dewasa,golongan tua, muda, anak–anak mengenal apa itu musik, bukan hanya sebagai hiburan semata tetapi musik dapat juga megekspresikan pendapat serta merupakan sarana untuk pendidikan. Selain itu, musik juga merupakan kekuatan kebudayaan. Namun pada saat sekarang ini , musik yang berkembang kebanyakan musik populer. Seni musik tradisional sudah terbelakangkan.

Mengkaji sesuatu yang berkaitan dengan hal tradisi alangkah baiknya menggunakan bahasa dimana tradisi daerah tersebut lahir. Karena jika tidak menggunakan bahasa daerah itu sendiri akan sulit mencari padanan katanya dalam bahasa Indonesia.

Grup Palito Nyalo terdiri dari dua kata yaitu Palito dan Nyalo. Palito itu dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan Pelita. “Palito Nyalo di bahasa Indonesiakan menjadi pelita yang bernyala. Dalam bahasa minangnya yaitu “Dama nan iduik”. Dama nan iduik akan memberikan sinar cahaya. Ia menjadi inti dan pusat cahaya. Ia akan memberikan cahaya kepada yang disekitarnya yang mampu ia jangkau,” ungkap salah seorang pelaku seni grup Palito Nyalo.

Grup Palito Nyalo lahir pada tahun 1989. Pendiri dari grup Palito Nyalo bernama Jamaluddin Umar. Ia bergelar Rajo Kuaso. Selain itu, sejak berdirinya grup palito nyalo diprakarsai oleh beberapa orang. Salah satu intinya adalah Rajo kuaso. Selai itu, Palito Nyalo diketuai oleh Dasrul, S.S, Msi.

Grup Palito Nyalo masih berkembang sampai sekarang. Saat ini telah berumur 25 tahun. Grup palito nyalo tidak pernah mati baik dikalangan mereka itu sendiri maupun dari kalangan masyarakat sekitar. Maju mundur itu dalam sebuah tradisi itu hal yang biasa, itu membuktikan kekuatan kita dalam melestarikan budaya.

Visi atau hal yang mendasar dari grup palito Nyalo yaitu menggali dan menumbuh kembangkan seni tradisi Minangkabau. Terbukti dengan terlestarikannya bentuk kesenian seperti :
1.      Randai
2.      Silek
3.      Tari Tradisional
4.      Musik Tradisional
5.      Alur Pasambahan

Bukan hanya sebagai wadah pengembangan diri saja, Palito nyalo sudah tampil di beberapa tempat. Di seluruh daerah Sumatera barat telah dijejakinya kecuali mentawai. Lalu di bagian pulau Sumatera hanya Aceh yang belum dijejakinya. Kemudian juga pernah tampil di negeri seberang yaitu Malaka.  Pernah juga ke Hawai, cuma hanya mengirim perwakilan untuk mengajar randai di Universitas Hawaii. Itulah bukti dari proffesionalitas pemain yang bergelut dalam randai.

Kemudian, motivasi terbesar Palito Nyali tergantung kepada kita sebagai generasi muda, apakah kita masih cinta dengan kebudayaan kita sendiri. Jika kita mencintai budaya kita, maka kita kembali melestarikan apa yang kita punya. Kata-kata motivasi yang harus ditanamkan “kita punya tradisi, kita punya kebudayaan, jika belum paham dan kita harus mempelajarinya,” tutup salah seorang pelaku seni grup Palito Nyalo. (Rizka)







Minggu, 11 Desember 2016

Mitos Alis Menyatu


Berbagai mitos alis menyatu pernah menjadi trending topik. Hal ini dikarenakan kelainan genetik atau Cornelia De-Lang Syndrome tersebut tidak semua orang memilikinya Terutama bagi manusia di Indonesia.Alis menyatubagi sebagian masyarakat cukup spesial, seksi, dan lebat. Kemudian, identik dengan pertanda kasih yg tulus, semangat, pekerja keras, penolong, namun sangat acuh terhadap orang yg baru di kenal.  Namun, beda negara, beda daerah, juga beda kepercayaannya. Berikut beberapa mitos tentang alis menyatu :

1.      Lambang Kesucian
Ada anggapan turun-temurun kalau alis menyatu adalah lambang kesucian untuk wanita dan kejantanan untuk pria. Kepercayaan ini berkembang sejak Dinasti Qajar berkuasa di Iran pada tahun 1785-1925.

2.      Lambang Kejahatan dan Keburukan
Bagi orang-orang Barat, alis menyatu justru adalah lambang kejahatan. Konon, diduga orang yang alisnya menyatu terlihat aneh, berbulu dan seram. Penulis sendiri pernah takut memiliki alis yang menyatu, konon katanya saat ajal menjelang, orang yang memiliki alis menyatu akan meninggal dalam keadaan memprihatinkan dan berada dalam kondisi buruk.

3.      Punya Indra Keenam
Salah satu yang fenomenal adalah orang yang memiliki alis menyatu dianggap punya indera keenam atau bisa melihat makhluk gaib.

4.      Jodohnya Kerabat Dekat
Alis menyatu mungkin saja tampak pada orang-orang Indonesia bila mereka mewarisi gen tersebut. Percampuran gen juga menimbulkan variasi pada alis menyatu. Pada beberapa orang, alis menyatu tidak tampak jelas tetapi masih terlihat "rambut-rambut halus" di antara alis. Salah satu pendapat masyarakat di Indonesia terkait alis menyatu ialah akan mendapat jodoh kerabat dekat.

5.      Cantik ketika Dewasa
Beberapa orang ada yang tertarik memiliki alis yang menyatu, konon katanyadengan alis menyatu mereka terlihat cantik ketika dewasa. Bahkan, tak tanggung-tanggung mereka rela merogoh kocek untuk menyatukan serta mempertebal alisnya.
Terlepas dari apapun mitos seputar alis yang menyatu, penulis hanya percaya sama Allah SWT. Penulis tidak pernah suudzon apalagi minder punya alis menyatu. Inilah mitos tentang alis menyatu. Semoga bermanfaat. Rizka(Diolah dari berbagai sumber)



Sabtu, 10 Desember 2016

 "Cinta tidak harus memiliki dan kita tidak bisa memaksakan keadaan untuk memilikinya. Namun pahamilah diberi harapan yang sangat meyakinkan lalu ditinggalkan itu sangat sakit rasanya."

Aku pernah suka tutur sapanya. Aku pernah suka senyum di wajahnya. Aku suka segala sesuatu dari dirinya. Semua aku suka.

Berawal dari pandangan dan tegur sapa. Berlanjut kepada komunikasi intens via BBM. Hingga suatu ketika rasa itu muncul dan aku ingin dirinya. Ingin berada di sampingnya, bukan untuk menjadi pendamping, melainkan jadi seorang perempuan yang ingin membuat ia selalu tersenyum di setiap harinya.

Tibalah saatnya.........................................................................................................................................
Dia (lelaki hitam manis itu) menanyakan seperti apa perasaanku kepadanya. Aku terkejut ketika itu. Ingin tersenyum, takut kecewa. Ingin menangis, tapi tak ada alasan untuk menangis saat itu.

"Ka, sebenarnya, ika itu kek apa sama abang?


"Emank kenapa tu bang?


"Abang pengen tahu aja," ujarny.


Aku terus mencoba mengalihkan pembicaraan malam itu ke hal yang lain. Namun, aku juga berpikir, jika tak malam itu juga aku mengungkapkan, aku takut kesempatan itu tak datang dua kali. Dengan gugup aku menjawab:

"Sebenarnya bg, aku udah anggap abang lebih dari abang,"

Tapi jawabannya sungguh membuat hati ini teriris
"Maaf ya ka. abang gak bisa bales perasaan ika. abang nganggap ika sama kek yang lainnya. Segan abang sama ika aa"

Sambil menahan tangis aku menjawab:
"Gapapa bang. kenapa pulak segan? lupakan saja apa yang ika katakan malam ini bang. ika gak akan ganggu abang lagi.


Terus dia hanya membalas chat ku denga senyuman.

Sejak saar itu aku tak ada lagi menghubunginya. Hingga saat ini hubungan pertemanan kami renggang.



Bagi saya, kata malam pernah menjadi penanda tentang sebuah gelap. Tanpa cahaya. Tetapi apakah memang benar demikian? Bahwa malam selalu gelap. Menurut saya tidak. Saya ingin membuktikan bahwa malam juga mempunyai cahaya. Dan menggugurkan penanda bahwa malam identik dengan gelap.

Gelap. Apakah selalu hitam? Hitam. Apakah selalu gelap? Sebagai pembuka, coba deh kamu baca lirik lagu di bawah ini.


kapan ku bisa melihat
senyuman yang seperti dulu
dimana kan ku dapati
keriangan dan canda tawamu
begitu suram hatimu
jiwamu pun meledak-ledak
kau tak seperti biasa
terlalu lama memendam rahasia
aku rindu pada dirimu yang dahulu
kapan kau bisa tersenyum lagi
seperti indah mentari pagi
yang menyinari dan menerangi bumi