Sabtu, 10 Desember 2016

 "Cinta tidak harus memiliki dan kita tidak bisa memaksakan keadaan untuk memilikinya. Namun pahamilah diberi harapan yang sangat meyakinkan lalu ditinggalkan itu sangat sakit rasanya."

Aku pernah suka tutur sapanya. Aku pernah suka senyum di wajahnya. Aku suka segala sesuatu dari dirinya. Semua aku suka.

Berawal dari pandangan dan tegur sapa. Berlanjut kepada komunikasi intens via BBM. Hingga suatu ketika rasa itu muncul dan aku ingin dirinya. Ingin berada di sampingnya, bukan untuk menjadi pendamping, melainkan jadi seorang perempuan yang ingin membuat ia selalu tersenyum di setiap harinya.

Tibalah saatnya.........................................................................................................................................
Dia (lelaki hitam manis itu) menanyakan seperti apa perasaanku kepadanya. Aku terkejut ketika itu. Ingin tersenyum, takut kecewa. Ingin menangis, tapi tak ada alasan untuk menangis saat itu.

"Ka, sebenarnya, ika itu kek apa sama abang?


"Emank kenapa tu bang?


"Abang pengen tahu aja," ujarny.


Aku terus mencoba mengalihkan pembicaraan malam itu ke hal yang lain. Namun, aku juga berpikir, jika tak malam itu juga aku mengungkapkan, aku takut kesempatan itu tak datang dua kali. Dengan gugup aku menjawab:

"Sebenarnya bg, aku udah anggap abang lebih dari abang,"

Tapi jawabannya sungguh membuat hati ini teriris
"Maaf ya ka. abang gak bisa bales perasaan ika. abang nganggap ika sama kek yang lainnya. Segan abang sama ika aa"

Sambil menahan tangis aku menjawab:
"Gapapa bang. kenapa pulak segan? lupakan saja apa yang ika katakan malam ini bang. ika gak akan ganggu abang lagi.


Terus dia hanya membalas chat ku denga senyuman.

Sejak saar itu aku tak ada lagi menghubunginya. Hingga saat ini hubungan pertemanan kami renggang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar