Sabtu, 10 Desember 2016

Leader Syndrome, Kebiasaan Buruk Pemimpin Masa Kini


Seseorang nan terkena "Leader Syndrome" bagi saya adalah seseorang yang menjadi sosok menyebalkan, mengganggu, egois, dan sebagainya. Hal ini saya temukan ketika menduduki bangku perguruan tinggi.

Dalam berbagai teori, karakteristik kepemimpinan seseorang dapat dikategorikan macam-macam. Bagi nan pernah atau sedang mempelajari ilmu-ilmu sosial, tentu hal ini bukan barang baru. Bagi seseorang nan awam akan istilah-istilah macam itu, mungkin hanya akan menyebutkannya dengan sifat-sifat eksklusif nan ada pada diri manusia.

Saya pernah menemukan sosok-sosok pemimpin nan secara kasat mata sangat ideal sekali bagi saya. Mereka sangat komunikatif, terbuka dlm menerima kritikan, tahu bagaimana cara menyemangati anak buah nan sedang ‘loyo’, cakap dalam memimpin organisasi, dan lain-lain. Sesuatu nan sepertinya didambakan seseorang dari sosok seorang pemimpin. Tetapi, pada akhirnya, ada satu-dua hal nan menyadarkan aku bahwa mereka hanyalah seorang manusia saja. Yang cacatnya niscaya ada, dan stigma itu seolah baru akan menyadarkan setiap orang nan mengenalnya bahwa seorang pemimpin siapapun dia tak akan pernah menjadi seorang malaikat. Manusia hanyalah manusia nan memiliki sisi jelek dan baik.

Dan saat ini, aku menemukan sosok pemimpin nan dapat dibilang di luar dari bayangan ideal seorang pemimpin bagi diri saya. Ia tak suka dikritik, jika diberi masukan maka jawabannya sangat pedas, tak pandai memperhatikan kebutuhan anggotanya, sulit berkoordinasi dengan nan lain, sombong dalam berbicara, dan otoriter dalam memberikan perintah. Ia secara implisit dan tersurat sering menyatakan: "Jika ada aku semua beres."

Dua tipikal pemimpin nan sangat berbeda memang. Masing-masing niscaya ada lebih dan kurangnya. Saya hanya berpikir ulang, bahwa mungkin sindroma macam ini tak akan menimpa orang-orang nan berkepribadian lebih baik dari contoh pemimpin nan kedua nan aku paparkan di atas. Seseorang nan matang dlm kepribadian, memiliki ketulusan hati, kerendahan hati, tak arogan dan menyadari bahwa menjadi bagian dari orang-orang nan memegang tampuk kepemimpinan seharusnya menjadi nan paling pertama merendahkan diri di hadapan Allah sebab tanggung jawab nan begitu besar. Menjadi nan paling bersabar dan bersahabat di antara manusia sebab mereka ialah bagian dari tanggung jawabnya, kebaikan dan keburukan nan terjadi pada anggota-anggotanya ialah juga harus ia pedulikan, dan menjadi nan paling bersyukur apabila ada nan mengkritiknya karena manusia selalu harus mengkoreksi diri dan memperbaiki.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar